Cimahi, akarmusic.com – Pemerintah Kota Mojokerto, Jawa Timur, semakin gencar membawa teknologi digital ke dalam tata kelola pemerintahan sebagai bagian dari visi “kota cerdas” (smart city). Namun, menurut Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari, keberhasilan tak hanya diukur dari seberapa banyak aplikasi atau sistem digital yang dipasang, melainkan dari kualitas birokrasi sebagai motor penggerak.Enam Dimensi Smart City & Peran Birokrasi Dalam Forum Group Discussion (FGD) tentang Strategi Pengembangan Kota Cerdas, Wali Kota yang akrab dipanggil Ning Ita menyampaikan bahwa enam dimensi kota cerdas — termasuk smart government, smart economy, dan smart living — sangat tergantung pada bagaimana birokrasi bekerja. Bila birokrasi tidak peka terhadap kebutuhan masyarakat dan tidak optimal dalam pelaksanannya, maka seluruh infrastruktur digital dan sistem modern yang dibangun akan sia-sia.
Mojokerto saat ini berada di posisi ke-11 dari 156 daerah di Indonesia dalam implementasi program kota cerdas. Itu artinya, masih ada ruang besar untuk perbaikan dan peningkatan. Ning Ita menekankan bahwa posisi itu harus menjadi sumber motivasi agar terus berkembang dan tidak terjebak dalam “simbolisasi digital”.
Inovasi Pangan & Pemberdayaan Masyarakat Lokal
Selain penekanan pada transformasi digital, Pemkot Mojokerto juga memperluas program inovatif di sektor pangan dan ekonomi lokal. Contohnya, pemerintah memberikan pelatihan kepada kader PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) dalam memproduksi berbagai olahan berbahan kedelai — dari tempe dan tahu hingga makanan ringan dan minuman seperti sari kedelai. Tujuan dari pelatihan ini adalah ganda:
Ketahanan pangan – Dengan meningkatkan variasi pengolahan kedelai, masyarakat bisa memenuhi kebutuhan protein nabati secara lokal dengan lebih mudah dan beragam.Kesejahteraan ekonomi – Usaha kecil berbasis rumah tangga dapat muncul dari inovasi pangan lokal ini, membuka peluang pendapatan tambahan warga.
Wali Kota juga mengingatkan agar dalam disain produksi olahan kedelai, diperhatikan kemungkinan alergi, terutama bagi anak-anak balita, agar manfaatnya nyata dan aman.
Membangun Kota Cerdas yang Inklusif dan Terukur
Strategi yang diambil Pemkot Mojokerto bukan hanya soal adopsi teknologi. Fokusnya juga pada membangun ekosistem cerdas yang inklusif, terukur, dan yang memberikan pelayanan publik nyata. Artinya, setiap kebijakan, aplikasi, dan sistem digital baru harus bisa dirasakan manfaatnya langsung oleh masyarakat — mulai dari kemudahan layanan publik hingga peningkatan kesejahteraan.








