Dalam dunia fashion yang terus berkembang, saya melihat bahwa gaya busana milenial dan Gen Z memiliki karakter dan cara styling yang cukup berbeda.
Milenial biasanya memilih gaya yang lebih minimalis, elegan, dan rapi. Mereka suka warna netral seperti putih, beige, abu-abu, atau hitam, serta motif yang sederhana. Banyak juga yang terinspirasi dari gaya retro dan vintage, seperti jaket denim klasik, celana high-waist, atau blazer oversized. Bagi mereka, penampilan yang simpel tapi tetap terlihat profesional adalah hal penting. Cara styling milenial cenderung mengutamakan keserasian warna dan potongan yang timeless, cocok untuk bekerja maupun hangout santai.
Sementara itu, Gen Z dikenal dengan gaya yang lebih berani, ekspresif, dan eksperimental. Mereka tidak ragu mencampur berbagai gaya dari era dan budaya berbeda—misalnya, memadukan outfit sporty dengan elemen punk, atau memakai aksesori warna mencolok. Gen Z juga sangat identik dengan streetwear seperti hoodie, cargo pants, sneakers chunky, serta pakaian oversized. Cara styling mereka lebih bebas dan anti aturan, menonjolkan keunikan pribadi serta pengaruh budaya pop dan musik urban.
Dari segi preferensi merek, milenial cenderung memilih brand ternama yang dianggap menunjukkan status sosial, sedangkan Gen Z lebih memperhatikan nilai keberlanjutan dan etika produksi dari suatu brand. Dalam mencari inspirasi fashion, milenial masih banyak bergantung pada Instagram, sementara Gen Z lebih aktif di TikTok dan Snapchat untuk mengikuti tren terbaru.
Bagi saya, meskipun keduanya memiliki gaya dan pendekatan yang berbeda, baik milenial maupun Gen Z sama-sama menggunakan fashion sebagai bentuk ekspresi diri dan kreativitas, bukan sekadar mengikuti tren.








