CEO Microsoft, Satya Nadella, mengungkap bahwa tantangan terbesar dalam perkembangan kecerdasan buatan (AI) saat ini bukan lagi soal chip atau GPU, melainkan keterbatasan pasokan listrik yang dibutuhkan untuk menjalankan pusat data berskala besar. Pernyataan ini disampaikan Nadella dalam wawancara bersama CEO OpenAI, Sam Altman, di mana ia menyoroti bahwa infrastruktur daya kini menjadi penghambat utama di balik kemajuan teknologi AI global.
Nadella menjelaskan bahwa meskipun Microsoft memiliki stok chip melimpah, banyak data center belum dapat beroperasi maksimal karena daya listrik yang belum mencukupi. Beberapa fasilitas bahkan hanya berstatus “warm shell” — yaitu gedung pusat data yang sudah selesai dibangun, tetapi belum bisa digunakan karena menunggu sambungan listrik yang memadai.
Menurut laporan, pusat data di Amerika Serikat telah mengonsumsi sekitar 183 terawatt-jam listrik pada tahun 2024, setara dengan 4 persen dari total konsumsi listrik nasional. Angka ini diprediksi bisa melonjak dua kali lipat pada tahun 2030 seiring dengan meningkatnya penggunaan AI di berbagai sektor.
Kondisi ini membuat beberapa wilayah di AS mengalami lonjakan biaya listrik hingga lebih dari 30 persen. Nadella menekankan bahwa untuk menjaga keberlanjutan teknologi AI, dunia tidak cukup hanya fokus pada pembuatan chip dan perangkat keras, melainkan juga harus berinvestasi besar dalam inovasi energi agar mampu menopang kebutuhan daya yang terus meningkat di masa depan.








