Cimahi, akarmusic.com – Ramadhan selalu identik dengan suasana kebersamaan dan tradisi yang diwariskan turun-temurun. Salah satu tradisi unik yang masih bertahan hingga kini adalah Iftar Cannon, atau meriam berbuka puasa, yang ditembakkan tepat saat waktu Maghrib sebagai penanda umat Muslim untuk berbuka puasa.
Tradisi Iftar Cannon ini dipercaya bermula di Kairo, Mesir, pada abad ke-19. Konon, dentuman meriam pertama kali terjadi secara tidak sengaja saat uji coba senjata bertepatan dengan waktu berbuka. Warga yang mendengar suara tersebut mengira itu adalah penanda resmi dari pemerintah, dan tradisi pun terus dilestarikan setiap Ramadhan.
Seiring waktu, tradisi ini menyebar ke berbagai negara Timur Tengah seperti Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan Qatar. Di kota-kota besar seperti Dubai dan Riyadh, dentuman meriam Ramadhan bahkan menjadi daya tarik wisata religi yang dinantikan warga lokal maupun turis mancanegara.
Biasanya, meriam ditempatkan di area terbuka atau dekat landmark kota. Ketika matahari terbenam dan adzan Maghrib berkumandang, satu kali tembakan dilepaskan sebagai simbol berakhirnya puasa hari itu. Di beberapa wilayah, tradisi ini juga dilakukan saat sahur untuk membangunkan warga.
Meski kini teknologi telah memudahkan umat Muslim mengetahui waktu berbuka melalui aplikasi dan siaran televisi, tradisi meriam Ramadhan tetap dipertahankan sebagai simbol sejarah dan identitas budaya. Pemerintah setempat umumnya bekerja sama dengan aparat keamanan untuk memastikan pelaksanaannya aman dan tertib.
Bagi banyak masyarakat, dentuman meriam bukan sekadar suara keras di langit senja, melainkan momen yang membangkitkan rasa haru dan kebersamaan. Anak-anak berkumpul menyaksikan prosesi, keluarga bersiap menyantap hidangan berbuka, dan suasana kota terasa lebih hidup.
Tradisi “Iftar Cannon” menjadi bukti bahwa Ramadhan bukan hanya bulan ibadah, tetapi juga momentum pelestarian budaya Islam yang sarat makna sejarah dan nilai persatuan.








